
dunia gemetar di tangan sendiri
menelanjangi satu satu senyummu
yang diurai waktu. masihkah aku ingat mata
itu?
benda yang begitu rahasia memendam tiap rona
dari genggaman yang kerap kurindukan,
di sela tirai tirai jendela, berharap
saja kau lintas
dan tenangkan gemuruh ombak pasang yang
berlomba-lomba
di pantai sunyi di sudut dada ini
di sudut yang paling tersembunyi
hingga banyak prosa tersimpan, terdiam dan
terlupakan dengan begitu ikhlasnya.
o tusiyah, jangan nyala demi aku
sungguh
walau terang kurindukan tapi
bukan kucari untuk kehilangan.
biar saja aku
tetap di balik tirai
sambil mencoba selami rahasia
di matamu
yang
jauh.