Mukadimah

Ini adalah kamar pribadi, tempat bergumulnya kegelisahan, cinta, tanya, ketegaran, kesunyian, harapan, pencarian, dan impian. Pergumulan yang mendekap kata-kata dalam baris-baris puisi. Kamar ini adalah kamar pribadi, segala isinya adalah milik sang pemilik. Mintalah izin dan kita pun dapat berbagi.

Salam,

Risza Setiawan

Tuesday, August 12, 2008

Kutukan Efrosina


Waktu makin murung
tua oleh masehi-masehi yang berlari
seperti cahaya barat yang tinggal sepenggalan,


Masih saja aku meringkuk di bawah jendela
menanti malam yang mewabah.
Tapi Efrosina seperti khianat
pada debu kamar dan buku-buku tua,


Matanya itu aku lupa
dan akhirnya gila
bersama kutuk yang terpenjara di sana.


Monday, August 11, 2008

Kerinduan


bila,
kerinduan adalah rerantingan
tak mesti patah
abadi dijenguk kesunyian
burung-burung malam yang iba
pada separuhan bulan
yang begitu sabar
merangkaki kelam
seperti sebuah penantian
yang tak pernah usai dan terus
berulang

kerinduan
seperti penantian yang sejatinya
adalah penantian

di selimut kabut hati
tak mau usai ditikam pagi.

Ingin Pulang


aku ingin pulang
ke arah di mana aku datang

sudah menaksir jalan
meningkahi kesenyapan
yang timbuni gejolak merasai
bulir-bulir yang dirayu malam

biar di rumah saja
kunikmati kesendirian

aku ingin pulang

dari mana aku datang?

Friday, August 8, 2008

Menanti


ketika musik itu karam menjelmakah
prosa dari celah deretan
gigi-gigimu yang putih ? sementara
rumput masih bergoyang dan di antaranya
begitu khusuk menerima bab demi bab
perjalanan prosesi kematian yang abadi.
selebihnya bertahan untuk meresapi arti
tegar dan kerendahan.
masihkah dari celah deretan
gigi-gigimu yang putih, kudengar lagi
prosa berlari mencari sarang, bertahan
pada lindap kesunyian yang paling hakiki
di bumi.

Di Pintu Kelas


kurengkuh anganmu tentang
manisnya dunia kecil
yang suatu saat ketika angin
berpulang kembali
kau sebut itu masa lalu,
dan di waktu itu begitu mau aku
kau ingat pernah kusapa
dengan kedekatan yang tak ingin
kujadikan imitasi
"selamat pagi".

Di mana Kau Sembunyikan Hatimu?


DI MANA KAU SEMBUNYIKAN HATIMU

salju itu mencair
di dataran pipimu yang bagus
dengan begitu santun menyembunyikan
cahaya di matamu
yang sering menidurkan waktu
ketika hujan jadi logam
mengisi cawan retak di halaman paling
kutub dari diriku.
tahukah kau, ketika pagi
begitu manja bergelayut di pundak matahari
begitu inginnya aku menyeruput secangkir kopi
yang kau hidang dengan ketulusan hati
seorang wanita, kerap menjelma
jadi berepisode-episode mimpi indah
yang dengan gemetar kunikmati seorang diri
ketika matapun
masih berkeras terjaga. sungguh,
penantianku pada musim berbunga
begitu panjang dan berliku,
lalu
di mana kau sembunyikan hatimu?